Diary of a Mad Old Man, Fan Bingbing Melaju ke Toronto hingga Busan

Sabtu, 19 September 2026 | 00:22:02 WIB

FOKUSMEDIA.CO.ID — Fan Bingbing kembali ke panggung film internasional lewat peran Susu, seorang perawat asal China dalam Diary of a Mad Old Man garapan sutradara Wayne Wang. Film adaptasi novel Tanizaki Jun'ichir? tahun 1961 itu tayang perdana dunia di Toronto Film Festival dan juga terpilih di Busan International Film Festival.

Fan Bingbing kembali menempati posisi sentral dalam film internasional terbarunya. Aktris asal China itu memerankan Susu, seorang perawat sekaligus menantu yang merawat Utsugi, pria Jepang lanjut usia yang lumpuh akibat stroke.

Diary of a Mad Old Man menjadi adaptasi terbaru sutradara Wayne Wang atas novel Tanizaki Jun'ichir? yang terbit pada 1961. Film ini tayang perdana dunia di Toronto Film Festival dalam seksi gala presentations, sekaligus masuk seleksi Busan International Film Festival.

Sinopsis dan Premis Cerita

Susu digambarkan sebagai sosok dengan pengaruh besar atas Utsugi, namun tetap rentan dan bergantung pada keluarga di sekitarnya. Fan menolak membingkai karakternya sebagai predator maupun korban.

"I don't think Susu is someone who is simply trying to control Utsugi," kata Fan. "She understands the influence she has over him, but in many ways, she is also vulnerable and dependent on the family."

Bagi Fan, kekuatan yang diperebutkan Susu lebih soal bertahan hidup ketimbang dominasi. Perempuan itu memanfaatkan pengaruh apa pun yang tersedia di tengah keterbatasannya.

Chemistry dengan Lily Franky

Aktor Jepang Lily Franky memerankan Utsugi. Fan dan Franky berlatih intensif bersama Wang untuk menemukan nada hubungan kedua tokoh, membangun kedekatan lewat hasrat dan imajinasi alih-alih intimasi fisik konvensional.

"There is tenderness, desire, dependency and also discomfort," ujar Fan. "All of these things can exist together."

Pendekatan itu membuat kedekatan Susu dan Utsugi berubah dari adegan ke adegan. Tak ada satu tafsir tunggal yang mengeras soal siapa sebenarnya memanfaatkan siapa.

Identitas Susu sebagai Perempuan China

Keputusan menjadikan Susu perempuan China di tengah keluarga Jepang menjadi salah satu pilihan produksi yang paling tajam. Fan menyebut status orang luar itu membentuk hampir setiap adegan yang ia mainkan.

"When you enter another culture, you are always observing: how people communicate, what they don't say, the relationships, etc.," katanya. "Sometimes being an outsider makes you more sensitive to these things."

Wang tidak pernah meminta Fan memainkan Susu sebagai orang Jepang. Sutradara yang lama berkarya soal tokoh lintas budaya itu justru mendorong Fan mengandalkan instingnya sendiri.

Posisi Perempuan Modern dalam Cerita

Fan menilai perempuan seperti Susu di era sekarang punya kesadaran lebih besar atas pilihannya dibanding perempuan awal 1960-an. Ia tak ingin memperlakukan seksualitas Susu sebagai hal yang otomatis membuat karakternya amoral.

"She understands her body, her attractiveness and the effect she has on Utsugi, and I think she has the right to have that awareness," ujarnya.

Namun menjadi perempuan modern tak berarti sepenuhnya bebas. Ketergantungan finansial, ekspektasi keluarga, kesepian, dan relasi yang timpang masih ada hingga kini.

Babak Baru Karier Internasional

Peran ini menandai pergeseran dari produksi besar China dan peran berbasis bintang yang lama melekat pada citra Fan. Ia mengaku kini lebih mementingkan apakah sebuah karakter menyentuhnya ketimbang cocok dengan citra tertentu.

Fan ingin menemukan sisi dirinya yang belum pernah ia tunjukkan. Ia menikmati peran yang membuat penonton melupakan bahwa mereka sedang menonton Fan Bingbing.

Jalur kolaborasi internasional ini mulai ia bangun sejak 2023 lewat Green Night arahan Han Shuai yang tayang di seksi Panorama Berlin Film Festival. Sepanjang karier empat dekade, Wayne Wang dikenal lewat Chan Is Missing (1982), The Joy Luck Club (1993), dan Smoke yang meraih Silver Bear Grand Jury Prize di Berlinale 1995.

Bagi industri film Asia, keterlibatan Fan di dua festival bergengsi sekaligus menegaskan posisinya sebagai aktris yang bergerak bebas melintasi pasar dan bahasa.

Terkini