JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut lahan yang disiapkan berasal dari empat wilayah: Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Papua. Menurutnya, dari keempat wilayah itu pemerintah optimistis bisa mengumpulkan 2 juta hektare yang dibutuhkan.
Rapat terbatas yang dipimpin langsung Presiden Prabowo itu juga dihadiri Menteri Investasi dan Hilirisasi yang sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, dan sejumlah pejabat lain.
Mengapa Tebu Dipilih, Bukan Jagung atau Singkong
Zulhas menjelaskan tebu dipilih sebagai sumber ethanol karena luas lahannya paling memungkinkan dibandingkan perkebunan jagung dan singkong. Pemerintah juga memutuskan program E20 memakai lahan perkebunan yang sudah ada, bukan membuka lahan baru.
"Setelah kita kaji dan seterusnya, dimungkinkan ya. Dalam 2 tahun mendatang kita sudah bisa, crude oil kita sudah bisa dicampur dengan E20 itu dalam 2 tahun," kata Zulhas saat jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu malam.
Ia menyebut lahan menjadi titik persoalan utama atau bottleneck dalam program ini. Namun setelah pembahasan di ratas, pemerintah menilai kebutuhan 2 juta hektare bisa dipenuhi dari empat wilayah tadi.
Danantara Dapat Tugas Bangun Industri Konversi Ethanol
Selain Kementerian Pertanian, Prabowo menugaskan BPI Danantara menyiapkan industri untuk mengonversi ethanol. Zulhas menyampaikan hal itu sebagai bagian dari pembagian kerja antarlembaga dalam ratas.
"Ratas dipimpin Bapak Presiden langsung. Kita membahas agar 2 tahun mendatang, kita sudah bisa produksi paling kurang E20. Oleh karena itu, tadi mentan diminta menyiapkan rencana termasuk lahan dan seterusnya. Danantara nanti industrinya ya mengonversi ethanol," ujar Zulhas.
Dengan skema ini, Kementerian Pertanian memegang urusan penyediaan bahan baku, sementara Danantara menangani sisi hilirisasi dan industri pengolahan.
Seluruh Tebu dari Dalam Negeri, Target Jangka Panjang E50
Zulhas memastikan tebu yang dipakai untuk program E20 seluruhnya berasal dari dalam negeri. Pemerintah tidak merencanakan impor bahan baku untuk memenuhi target campuran BBM 20 persen ethanol ini.
Lebih jauh, pemerintah menargetkan campuran ethanol yang lebih tinggi, yakni E50, untuk jangka panjang. Target itu disebut Zulhas tanpa merinci tenggat waktunya.
Program E20 sendiri menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Kalimantan, yang masuk dalam empat wilayah penyedia lahan menurut Zulhas, berpotensi menjadi salah satu pemasok tebu untuk kebutuhan industri ethanol nasional.